Sabtu, 22 Agustus 2015

sisa sisa petang

Alunan lagu yang sama menemani lelapku dari rutinitas yang penuh peluh. Pandanganku ke langit langit atap rumah yang terlihat samar ketika sosok yang indah datang dengan binar matanya menatapku. Tak pelak membuatku sedikit menyungingkan senyumku.
Aku tak begitu mengerti tentangmu. Yang iya pernah memporak porandakan pikiranku. Siapa dirimu ? Untuk apa ada di singgahsana pikiranku ? Seribu pertanyaan yang belum terjawab .
Sering kudapati mereka yang telah menghilang pada masing masing peraduannya. Kau dengan hal hal barumu, sementara aku masih belum memahami bawasannya aku memang tak berhak untuk jatuh cinta. Hari demi hari aku kumpulkan pelajaran yang tak pernah kutebak jaraknya. Terkadang aku menemui persinggahan yang pada akhirnya aku pahami itu tak layak kusebut rumah.
Kita pernah merasakan rindu kepada siapa saja , apa saja dan bahkan belum pernah bertemu sekalipun. Disana kita diajarakan bahwa rindu tidak singgah kepada yang sudah terjadi namun bahkan yang belum terjadipun. Aku merasakan bahwa jatuh cinta itu tak mengenal waktu , apalagi bayangmu yang hanya semu berselimut kabutnya malam . Bukannya jatuh cinta itu membahagiakan , bukannya begitu ?
Barangkali kita perlu bertatap muka , berdua saja layaknya seorang kekasih . Maaf aku terlalu lancang .
Biarlah aku tidak mendapatkan ruang kosong dalam sunyimu , biarkan saja aku dengan segala harapanku , kepada sisa sisa petang ku jadikan kau doa yang panjang. Meskipun kau tak pernah mengaminkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar