Sabtu, 29 Agustus 2015

perempuan dan kerinduannya


Perempuan di depanku yang sedang duduk dengan tatapan kosong menembus tenangnya air danau. Sudah berapa lama kau duduk dan menyaksikan adegan percumbuan burung-burung itu. Kesunyian sedang berpesan kepada sepi untuk setiap tatapan kosongnya. Aku menangkap bahwa perempuan itu sulit sekali berdamai dengan hatinya. Terbuat dari apa hati perempuan ini ? Kenapa sulit menerima kenyataan yang memang tak sesuai dengan keinginannya.

Ku beranikan diri mendekatinya.

"Kamu baik baik saja ?" Tanyaku mengambang.

Ternyata lamunannya sudah mencumbui selama berjam-jam sampai matahari pergi hanya meninggalkan jingganya. Perempuan ini tidak tahu berapa voltase kesabaran yang diaimpannya. Perempuan ini mencintainya. Tapi hatinya terganjal janji dan kenangan darinya. Dia begitu payah menipu perasaannya.

Cling . . . . .

Ponselku berbunyi , aku segera meraihnya dan mengetik beberapa pesan singkat.
"Siapa?" Tanyanya singkat.
"Hanya kawan." Aku menjawab tanpa mengalihkan pandanganku dari layar 5 inci ku.

Perempuan itu diam. Aku sudah tahu apa yang harus kulakukan ketika menghadapi situasi seperti ini. Kuangkat handphone ku sejajar dengan wajahnya seketika perempuan itu menatapnya.
"Tenanglah , apa kamu akan seperti ini terus menerus? Jangankan hati ,membagi pikiran dengan yang lain pun tidak." Bisikku pelan.
"Selesaikanlah." Lanjutku.

Perempuan itu mulai melangkah menjauh dari ku langkah demi langkah dia mendekati pria dengan tubuh tinggi tegap. Aku berdiri tidak jauh dari posisi mereka. Aku hanya melihat mereka diam saja.

"Aku tak lagi mengharapkanmu." Perempuan memulai pembicaraan.
"Kenapa? Padahal Aku kesini untuk kembali kepadamu." Kata pria itu.
Aku yang mulai menjauh dari mereka sesekali aku melihat perempuan itu menyeka pipinya dari kejauhan. Aku tak suka drama seperti ini , aku tak mampu berbuat banyak. Aku benci adegan seperti ini dimana mereka akan bersatu kembali. Langkahku kupercepat untuk segera pergi dari tempat ini.

"Tapi aku masih menginginkanmu ?" Triak pria itu.  Tanganku seperti ada yang menahannya , Ternyata perempuan tadi sudah berjalan mengikutiku meninggalkan pria itu. Sontak aku hentikan langkah kakiku. Aku hanya memandang teduh perempuan itu . Kulihat wanita itu menyeka pipinya lagi dan rasanya dia mau melontarkan beberapa kalimat .

"Dia , dia adalah alasanku kenapa aku tidak mengharapkanmu lagi . Dia yang tulus menghibur dan menanggung penantian ku . Dan dia juga yang tak pernah mengusik romansa dan janji kita dulu. Dia alasanku kenapa aku disini ."

Sontak membuat hatiku berdesir , tak pernah menyangka apa yang perempuan ini ucapkan. Perempuan itu mulai memelukku erat sesekali sesenggukan .
"Jangan matikan hatiku untuk menunggu seseorang lebih lama lagi , aku tidak mau kamu jadi yang kedua setelah dia." Katanya terbata bata. Aku hanya menunduk dan mengecup keningnya
"Kamu adalah alasan mengapa pelangi tak pernah suram. Kamu adalah alasan kenapa senja tetap indah . Aku akan menmani kamu dan aku tak akan pergi." Bisikku kepadanya.

Seharusnya seorang pria tau cara berpamitan dengan baik.
Pelukannya makin erat dan tangispun pecah , aku seka air matanya dan ku ajak dia pulang.

Aku mencintainya tanpa mengusik luka masa lalunya. Aku terlalu mencintainya sampai bisa membuat mencintaiku semampunya.


Sabtu, 22 Agustus 2015

sisa sisa petang

Alunan lagu yang sama menemani lelapku dari rutinitas yang penuh peluh. Pandanganku ke langit langit atap rumah yang terlihat samar ketika sosok yang indah datang dengan binar matanya menatapku. Tak pelak membuatku sedikit menyungingkan senyumku.
Aku tak begitu mengerti tentangmu. Yang iya pernah memporak porandakan pikiranku. Siapa dirimu ? Untuk apa ada di singgahsana pikiranku ? Seribu pertanyaan yang belum terjawab .
Sering kudapati mereka yang telah menghilang pada masing masing peraduannya. Kau dengan hal hal barumu, sementara aku masih belum memahami bawasannya aku memang tak berhak untuk jatuh cinta. Hari demi hari aku kumpulkan pelajaran yang tak pernah kutebak jaraknya. Terkadang aku menemui persinggahan yang pada akhirnya aku pahami itu tak layak kusebut rumah.
Kita pernah merasakan rindu kepada siapa saja , apa saja dan bahkan belum pernah bertemu sekalipun. Disana kita diajarakan bahwa rindu tidak singgah kepada yang sudah terjadi namun bahkan yang belum terjadipun. Aku merasakan bahwa jatuh cinta itu tak mengenal waktu , apalagi bayangmu yang hanya semu berselimut kabutnya malam . Bukannya jatuh cinta itu membahagiakan , bukannya begitu ?
Barangkali kita perlu bertatap muka , berdua saja layaknya seorang kekasih . Maaf aku terlalu lancang .
Biarlah aku tidak mendapatkan ruang kosong dalam sunyimu , biarkan saja aku dengan segala harapanku , kepada sisa sisa petang ku jadikan kau doa yang panjang. Meskipun kau tak pernah mengaminkan.